Kolaborasi MaLFI dengan Balai Bahasa Provinsi NTB dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara
Pembelajaran BIPA di Lingkungan Pertambangan: Perihal Standar dan Kebutuhan Nyata
oleh Shanty Pirgayanti
Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggandeng Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI) untuk berkolaborasi dalam program Training of Trainers (ToT) bagi para pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), Sumbawa, pada 24–29 Agustus 2026. Kepercayaan tersebut menjadi kesempatan penting bagi MaLFI untuk berbagi pengalaman sekaligus belajar bersama para trainer bahasa, yang sehari-hari berhadapan langsung dengan pemelajar asing di lingkungan pertambangan.
Para pengajar MaLFI yang terlibat dalam program ini adalah Hurmayani, Ilda Karwayu, Shanty Pirgayanti, dan Sherly Lusiana Boru Simorangkir. Masing-masing membawa pengalaman dan perspektif berbeda dalam pengajaran bahasa dan BIPA. Ibu Yani, Ibu Shanty, serta Ibu Sherly, misalnya, membawa pengalaman mereka sebagai pengajar dan pengampu ragam program BIPA—yang di dalamnya termasuk konteks pembelajaran di luar negeri; sedangkan Ibu Ilda memperluas jangkauan referensi melalui pengalamannya sebagai pengajar BIPA dan penulis sastra—berkaitan erat dengan tata bahasa.
Program ToT ini, selain bersama pengajar MaLFI, juga didampingi oleh tim dari Balai Bahasa Provinsi NTB melalui materi mengenai Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Dengan demikian, peserta tidak hanya melihat BIPA dari sisi proses pembelajaran, tetapi juga mengenal instrumen untuk mengukur kemahiran berbahasa Indonesia.
Peserta kegiatan ToT merupakan trainers yang telah berpengalaman mengajar English dan BIPA di lingkungan PT AMNT. Oleh karena itu, kegiatan tidak dirancang hanya sebagai ruang penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang diskusi, berbagi pengalaman, praktik, kerja kolaboratif, dan refleksi.
Enam Hari: Dari Standar Menuju Kebutuhan Nyata
Program berlangsung selama enam hari, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 Wita setiap harinya. Materi yang diampu MaLFI berkaitan dengan pengembangan pembelajaran BIPA, mulai dari analisis kebutuhan pemelajar, pemahaman terhadap standar kompetensi, penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pengembangan materi ajar, perancangan asesmen, hingga praktik mengajar.
Dalam proses tersebut, pembelajaran mengacu pada standar yang berlaku, di antaranya Permendikbud Nomor 27 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Lulusan Kursus dan Pelatihan Bidang Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) serta Permenaker Nomor 11 Tahun 2024 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk pengajar BIPA. Keduanya lantar diperbandingkan dengan kurikulum dan silabus pembelajaran bahasa yang digunakan di PT AMNT. Tentu saja standar tidak berhenti sebagai dokumen untuk dibaca. Bersama peserta, MaLFI mencoba membawanya kembali pada pertanyaan yang sangat praktis:
Seperti apa pembelajaran bahasa Indonesia yang benar-benar dibutuhkan oleh pemelajar asing yang hidup dan bekerja di lingkungan pertambangan?
Dari pertanyaan tersebut, diskusi bergerak pada kebutuhan nyata pemelajar. Dalam situasi apa mereka menggunakan bahasa Indonesia? Dengan siapa mereka berkomunikasi? Apa yang perlu mampu mereka lakukan setelah belajar? Dan, bagaimana kebutuhan tersebut diterjemahkan menjadi tujuan pembelajaran, kegiatan kelas, materi ajar, dan asesmen?
Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian menjadi dasar ketika peserta menyusun dan mengembangkan draf silabus serta RPP. Di sinilah konsep BIPA komunikatif berbasis teks menjadi penting. Pembelajaran bahasa tidak hanya dimulai dari daftar kosakata atau tata bahasa, melainkan dari kebutuhan seseorang untuk melakukan sesuatu melalui bahasa. Misalnya, seorang pemelajar perlu menyapa rekan kerja, bertanya kabar, memperkenalkan diri, berpamitan, meminta informasi, memahami instruksi, atau berkomunikasi dalam situasi tertentu di tempat kerja.
Dari fungsi komunikasi di atas, pengajar dapat membangun pembelajaran melalui tahapan Building Knowledge of the Field (BKOF), Modelling of Text (MOT), Joint Construction of Text (JCOT), dan Independent Construction of Text (ICOT). Istilah tersebut mungkin terdengar teoretis, tetapi dalam praktiknya dapat dibuat sangat sederhana.
Pada tahap awal, pemelajar dibantu memahami konteks: kapan sebuah ungkapan digunakan, kepada siapa, dan dalam situasi seperti apa. Setelah itu, pengajar memberikan model penggunaan bahasa. Pemelajar kemudian mencoba menggunakannya bersama-sama dengan dukungan pengajar, sebelum akhirnya mendapat kesempatan menggunakannya secara lebih mandiri. Dengan demikian, pertanyaan pengajar tidak lagi berhenti pada: “Kosakata atau struktur apa yang akan diajarkan hari ini?” tetapi berkembang menjadi:
“Setelah belajar hari ini, pemelajar dapat menggunakan bahasa Indonesia untuk melakukan apa?”
Pertanyaan ini sekaligus membawa kami pada gagasan pembelajaran mendalam. Pembelajaran tidak hanya dilihat dari seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan. Yang lebih penting adalah bagaimana pemelajar memahami tujuan belajarnya, menghubungkan apa yang dipelajari dengan pengalaman nyata, mencoba menggunakan bahasa, memperoleh umpan balik, dan akhirnya mampu membawa bahasa tersebut keluar dari ruang kelas. Dalam konteks inilah pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan menjadi relevan. Berkesadaran berarti pemelajar mengetahui mengapa ia mempelajari sesuatu dan untuk apa bahasa itu akan digunakan. Bermakna berarti materi berhubungan dengan kebutuhan, pekerjaan, pengalaman, dan kehidupan nyata pemelajar. Sementara itu, menyenangkan tidak selalu berarti permainan. Pembelajaran dapat menjadi menyenangkan ketika ruang belajar terasa aman, aktif, dan kolaboratif; ketika pemelajar berani mencoba, bertanya, berinteraksi, bahkan melakukan kesalahan tanpa kehilangan keberanian untuk belajar.
Selama enam hari, ruang pelatihan pun menjadi ruang kerja bersama. Peserta membandingkan dokumen, berdiskusi, bertukar gagasan, menulis di papan, menyusun draf silabus, mengembangkan RPP dan materi ajar, memberikan umpan balik, hingga mencoba praktik mengajar. Pengalaman para trainers PT AMNT menjadi bagian yang sangat penting. Merekalah yang paling dekat dengan pemelajar dan memahami situasi komunikasi yang benar-benar terjadi di lingkungan kerja mereka.
Dari London, Bulgaria, Warsawa, hingga Sumbawa
Bagi saya pribadi, salah satu bagian paling menarik selama ToT justru muncul ketika mendengarkan pengalaman para trainer PT AMNT tentang pemelajar mereka. Cerita-cerita tersebut membawa saya kembali pada pengalaman mengajar BIPA di beberapa konteks di Eropa. Tempatnya berbeda. Pemelajarnya berbeda. Namun, ada satu pertanyaan yang terasa sama:
Bagaimana membuat bahasa Indonesia relevan dengan kebutuhan orang yang sedang mempelajarinya?
Ketika mengajar di London, misalnya, saya menemukan bahwa bahasa Indonesia hadir dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Di sekolah menengah, bahasa Indonesia antara lain ditawarkan untuk memfasilitasi siswa yang membutuhkan pendampingan dalam mempersiapkan ujian IGCSE dan A Level Bahasa Indonesia.
Di luar kebutuhan akademik tersebut, saya juga pernah berkesempatan bersama Prof. Aminudin Aziz, yang saat itu bertugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London, untuk memetakan minat dan kebutuhan siswa sebagai dasar pengembangan kegiatan melalui Indonesian Club. Tujuan siswa yang mempersiapkan ujian tentu berbeda dengan siswa yang masuk ke klub karena tertarik pada bahasa dan budaya Indonesia.
Konteks lain saya temui dalam program BIPA di KBRI London. Program tersebut lebih terbuka dan tidak mengikat seperti kelas formal. Pemelajar dapat datang dan pergi sesuai kesempatan dan kebutuhan. Kondisi seperti ini menuntut pengajar untuk cukup fleksibel. Kelas perlu tetap bermakna bagi mereka yang rutin hadir, tetapi juga cukup ramah bagi pemelajar yang baru bergabung.
Pengalaman lain saya temukan ketika mengajar secara daring untuk mahasiswa Jurusan Filologi di Sofia University, Bulgaria. Bahasa Indonesia hadir sebagai salah satu mata kuliah pilihan. Pemelajar datang dengan rasa ingin tahu serta alasan yang beragam untuk mempelajari Indonesia dan bahasanya.
Di Polandia, saya kembali menemukan karakter pemelajar yang berbeda. Selain mengajar bahasa Indonesia sebagai mata kuliah pilihan di Collegium Civitas, pengalaman bersama program BIPA KBRI Warsawa mempertemukan saya dengan pemelajar dari level BIPA 1 hingga BIPA 4, dengan usia, profesi, pengalaman belajar, serta kebutuhan bahasa yang beragam.
Di sinilah saya kembali belajar pentingnya diferensiasi. Sebuah kelas dapat membicarakan topik yang sama, tetapi teks, tugas, tingkat dukungan, dan target penggunaan bahasanya tidak harus sama. Pemelajar BIPA 1 mungkin membutuhkan teks yang lebih sederhana dan dukungan lebih besar. Sementara itu, pemelajar dengan tingkat kemahiran yang lebih tinggi dapat menggunakan teks yang lebih kompleks dan mengembangkan bahasa untuk tujuan komunikasi yang lebih luas.
Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa tidak ada satu model pembelajaran yang dapat diterapkan begitu saja pada semua konteks BIPA. Ketika mendengarkan cerita para trainer PT AMNT, saya kembali diingatkan pada hal yang sama. Pemelajar asing di Sumbawa memang tinggal dan bekerja di Indonesia. Kesempatan untuk menggunakan bahasa Indonesia tersedia hampir setiap hari. Namun, keberadaan kesempatan tersebut belum tentu otomatis membuat setiap orang memiliki motivasi dan kebutuhan bahasa yang sama. Seorang pemelajar mungkin hanya ingin mampu menyapa rekan kerja dengan lebih percaya diri. Pemelajar lain mungkin ingin memahami instruksi. Ada yang ingin dapat berbicara dengan staf Indonesia. Ada pula yang ingin lebih nyaman berinteraksi dengan masyarakat di luar lingkungan kerja.
Topiknya dapat sama, tetapi kebutuhan dan jalan belajarnya dapat berbeda. Di sinilah saya melihat hubungan yang kuat antara BIPA komunikatif berbasis teks, diferensiasi, dan pembelajaran mendalam. Bahasa menjadi lebih mudah dipelajari ketika pemelajar menemukan hubungan antara apa yang dipelajarinya dengan kehidupannya. Kita dapat mengajarkan banyak kosakata, struktur kalimat, dan tata bahasa. Namun, jika pemelajar tidak menemukan alasan untuk menggunakan semuanya, materi tersebut mungkin hanya tinggal sebagai materi kelas.
Sebaliknya, satu ungkapan sederhana dapat terasa sangat bermakna ketika seseorang menyadari bahwa ia dapat menggunakannya langsung untuk menyapa rekan kerja, meminta bantuan, memahami instruksi, atau membangun percakapan kecil dengan orang yang ditemuinya setiap hari.
Bagi saya, di situlah pembelajaran mendalam mulai terjadi. Kedalaman tidak selalu berarti materi harus semakin sulit atau semakin banyak. Kedalaman justru muncul ketika pemelajar tahu apa yang sedang dipelajarinya, memahami mengapa hal tersebut penting, mencoba menggunakannya, mendapatkan umpan balik, lalu dapat membawa bahasa tersebut ke dalam kehidupannya. Dengan cara itu, pembelajaran menjadi berkesadaran karena tujuannya jelas, bermakna karena terhubung dengan kebutuhan nyata, dan menyenangkan karena pemelajar mendapatkan ruang untuk mencoba dan berkembang.
Ketika Trainer Juga Menjadi Pemelajar
Hal lain yang membuat ToT ini menarik adalah kenyataan bahwa peserta merupakan para trainer dengan pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Mereka bukan “gelas kosong”. Mereka datang dengan pengalaman mengajar, pemahaman tentang pemelajar, pengetahuan mengenai lingkungan pertambangan, praktik-praktik yang telah berhasil, sekaligus persoalan nyata yang mereka temui.
Karena itu, selama enam hari, peran kami sebagai tim MaLFI bukan datang membawa seluruh jawaban. Pengalaman BIPA yang dibawa dari Inggris, Bulgaria, Polandia, Uzbekistan, Jepang, dan berbagai konteks lainnya juga bukan resep yang dapat langsung dipindahkan ke PT AMNT. Pengalaman tersebut justru menjadi bahan untuk berdiskusi, membandingkan, bertanya, serta menemukan kemungkinan-kemungkinan baru bersama peserta.
Ada saat ketika teori membantu kami memahami praktik. Ada pula saat ketika pengalaman peserta membuat kami melihat teori dari sudut pandang yang berbeda. Menariknya, gagasan pembelajaran mendalam yang kami diskusikan untuk pemelajar BIPA sebenarnya juga kami alami selama ToT.
Kami belajar dengan membawa pengalaman masing-masing. Kami menghubungkan teori dengan masalah nyata, mencoba, bertanya, menerima umpan balik, dan merefleksikan kembali praktik yang selama ini dilakukan. Dalam ruang seperti itulah fasilitator dan peserta dapat sama-sama menjadi pemelajar.
Pulang Membawa Pertanyaan Baru
Enam hari tentu tidak cukup untuk menjawab seluruh tantangan pembelajaran BIPA di lingkungan pertambangan.
Namun, enam hari dapat menjadi ruang untuk melihat kembali praktik yang telah berjalan, memahami standar yang menjadi rujukan, mencoba pendekatan baru, serta merancang pembelajaran yang semakin dekat dengan kebutuhan pemelajar. Saya datang ke program ini sebagai salah satu trainer MaLFI. Namun, saya pulang sebagai pemelajar juga. Saya belajar dari para trainer PT AMNT, rekan-rekan di MaLFI, tim Balai Bahasa Provinsi NTB, diskusi di kelas, serta dari konteks pertambangan yang sebelumnya tidak banyak saya kenal.
Dari London, Bulgaria, Warsawa, hingga Sumbawa, ruang belajarnya berbeda. Pemelajarnya berbeda. Alasan mereka belajar bahasa Indonesia juga berbeda. Namun, saya menemukan satu benang merah yang sama: Orang akan lebih mudah terhubung dengan sebuah bahasa ketika ia menemukan alasan personal untuk menggunakannya.
Mungkin, karena itu pula, pekerjaan seorang pengajar bahasa bukan sekadar membuat orang “belajar Bahasa Indonesia”. Kita membantu pemelajar menemukan untuk apa bahasa itu hadir dalam kehidupannya. Ketika tujuan itu ditemukan, kelas tidak lagi hanya menjadi tempat mempelajari bahasa. Bahasa menjadi alat untuk berkomunikasi, bekerja, mengenal orang lain, memahami lingkungan baru, dan perlahan-lahan merasa menjadi bagian darinya.
Pada akhirnya, pembelajaran yang mendalam tidak hanya ditandai oleh banyaknya materi yang diselesaikan. Ia hadir ketika pemelajar sadar terhadap tujuan belajarnya, menemukan makna dari apa yang dipelajari, dan menjalani proses belajar dengan rasa aman, rasa ingin tahu, serta kegembiraan untuk terus mencoba. Bagi saya, itulah salah satu pembelajaran paling berharga dari enam hari bersama para trainers PT AMNT.
Dokumentasi Photo: Tim MALFI