Belajar, Berkarya, dan Bertumbuh: Cerita di Balik Pengalaman Magang di MaLFI
oleh Muhammad Dzaki Al Hamid (Mahasiswa Universitas Brawijaya)
Bagi saya, magang bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban sebagai mahasiswa, tetapi juga kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu yang selama ini dipelajari dapat diterapkan dalam praktik, serta mengenal dunia kerja secara lebih dekat.
Sebagai mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Inggris, saya memang sudah cukup dekat dengan bahasa Inggris dalam lingkup akademik; melalui mata kuliah yang sudah saya selesaikan. Namun, saya menyadari bahwa memahami bahasa secara teori dan menggunakannya dalam dunia nyata—terutama pada lingkungan pekerjaan—merupakan dua hal yang berbeda. Saya ingin melihat bagaimana bahasa Inggris diajarkan, bagaimana sebuah lembaga pendidikan mengelola kegiatan pembelajaran, sekaligus bagaimana kemampuan berbahasa dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang menghasilkan.
MaLFI Memberi Ruang untuk Mengalami Langsung
Selama menjalani magang, saya tidak hanya ditempatkan dalam satu jenis pekerjaan. Saya mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan; mulai dari perencanaan dan produksi konten, pengelolaan media sosial, hingga pendampingan kelas. Saya juga diberi kepercayaan untuk terlibat sebagai pengajar, sehingga dapat mengalami betul bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung—dari sudut pandang seorang pengajar. Pengalaman tersebut membuat kegiatan magang ini terasa lebih dinamis dan berharga. Sebagai mahasiswa magang, saya tidak hanya belajar, tetapi juga memahami dinamika sebuah lembaga pendidikan dari berbagai sisi.
Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah ketika terlibat dalam proses pengajaran. Sebagai mahasiswa umum, saya rasanya lebih sering berada pada posisi sebagai peserta didik. Akan tetapi, sekali lagi, di sini saya mendapat kesempatan untuk ganti posisi: sebagai pengajar. Ketika menjadi pengajar, maupun asisten pengajar, saya seperti diberi kesempatan untuk mengubah sudut pandang. Ada perspektif baru yang muncul, bahwa menjadi seorang pengajar tidaklah sekadar tentang menguasai materi, tapi juga belajar bagaimana menyampaikannya secara efisien—mudah dipahami oleh peserta didik. Lebih daripada itu, saya pun belajar membaca situasi kelas, berkomunikasi dengan peserta didik yang beragam, dan menyesuaikan metode ajar sesuai tingkat pemahaman peserta didik terhadap bahasa Inggris.
Di sisi lain, keterlibatan saya dalam pembuatan konten digital memberikan pengalaman yang berbeda, sekaligus memperluas perspektif saya mengenai dunia pendidikan. Saya belajar bahwa proses komunikasi dan edukasi tidak berhenti ketika kegiatan pembelajaran di kelas selesai; terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, penting untuk menyampaikan program, nilai, dan keunggulan yang dimiliki melalui media yang akrab dan mudah diakses oleh masyarakat. Melalui pengalaman ini pula saya dapat menghubungkan kemampuan bahasa Inggris—yang saya pelajari selama perkuliahan—dengan ketertarikan saya terhadap media sosial dan pembuatan konten digital.
Saya belajar bagaimana sebuah ide dapat dikembangkan menjadi konten, bagaimana menentukan cara penyampaian yang sesuai dengan audiens, serta bagaimana membuat informasi pendidikan terasa lebih dekat dan menarik. Pengalaman ini juga membuat saya semakin memahami bahwa kemampuan berbahasa dapat digunakan dalam berbagai bidang termasuk pendidikan, komunikasi, dan pemasaran.
Adaptasi: Dinamika Pekerjaan dan Lingkungan Sosial
Akan tetapi, pelajaran terbesar yang membuat pengalaman magang saya terasa sangat berkesan bukanlah berasal dari satu pekerjaan tertentu, melainkan dari proses beradaptasi, baik dengan dinamika pekerjaan maupun lingkungan sosial kerja.
Memasuki lingkungan kerja membuat saya sadar bahwa kemampuan akademik saja tidak selalu cukup untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Kita perlu mampu bekerja dalam tim, menerima masukan, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, mengatur waktu, dan berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda. Berdasarkan pengalaman tersebut, ada pekerjaan yang berjalan sesuai rencana tetapi ada pula situasi yang menuntut saya untuk beradaptasi dan mengambil peran sesuai kebutuhan.
Hal-hal sederhana, seperti berdiskusi dengan rekan kerja, mempersiapkan ide konten, memproduksi konten bersama rekan-rekan lainnya, hingga persiapan untuk menghadapi kelas membuat saya merasa bahwa dunia kerja mungkin tidak semenyeramkan seperti yang sering digambarkan oleh banyak orang. Mendapat kesempatan untuk terlibat langsung dalam lingkungan kerja—pertama kalinya dan secara kebetulan dapat bergabung menjadi bagian dari MaLFI—merupakan sesuatu yang sangat saya syukuri. Dapat bertemu dan belajar langsung dari guru-guru berwawasan dan berpengalaman luas merupakan kesempatan yang sangat berharga.
Semakin lama berada di MaLFI, pandangan saya terhadap sebuah lembaga pendidikan juga ikut berubah. Awalnya, saya melihat lembaga kursus hanya sebagai tempat untuk belajar bahasa. Walakin, setelah terlibat langsung di dalamnya, saya menyadari bahwa di balik sebuah kelas terdapat banyak proses yang harus berjalan dan berbagai pihak yang terlibat, mulai dari perencanaan, pengajaran, komunikasi, pengelolaan program, pembuatan konten, pemasaran, hingga membangun hubungan dengan masyarakat.
Saya juga melihat MaLFI sebagai ruang yang tidak hanya berfokus pada kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga selalu berusaha menciptakan lingkungan dan materi pembelajaran yang lebih dekat, serta disesuaikan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman magang saya terasa lebih berarti.
Tidak Membatasi Diri pada Satu Bidang
Pada akhirnya, magang di MaLFI membuat saya memahami bahwa belajar bahasa Inggris bukan hanya tentang mengetahui grammar, vocabulary, atau bagaimana membentuk sebuah kalimat semata. Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi, membangun kepercayaan diri, membuka kesempatan, dan terhubung dengan lebih banyak orang. Oleh karena itu, bagi saya pribadi, pengalaman ini juga menjadi pengingat bahwa ilmu yang saya pelajari sebagai mahasiswa Prodi Sastra Inggris memiliki banyak kemungkinan untuk diterapkan; sehingga saya tidak harus membatasi diri pada satu bidang. Kemampuan bahasa dapat membawa saya ke dunia pendidikan, media, komunikasi, maupun bidang lain yang sebelumnya mungkin belum saya bayangkan.
Magang ini mungkin hanya berlangsung selama kurang dari dua bulan, tetapi pembelajaran dan pengalaman yang saya peroleh akan jauh lebih panjang dari itu. Bahwa saya datang sebagai mahasiswa, yang ingin mencari pengalaman, dan pulang dengan pemahaman yang lebih luas tentang dunia kerja, pendidikan, komunikasi, serta diri saya sendiri.
Terima kasih kepada MaLFI dan seluruh rekan yang telah memberikan ruang untuk belajar, mencoba hal-hal baru, melakukan kesalahan, menerima masukan, serta berkembang. Bagi saya, magang ini bukan sekadar bagian dari perjalanan akademik, melainkan salah satu tahap penting dalam memahami bagaimana saya ingin bertumbuh, berkarya, dan memberikan kontribusi di masa depan; melalui ilmu yang saya pelajari. Pengalaman ini menjadi langkah awal yang penting dalam mempersiapkan diri, guna menghadapi dunia profesional setelah menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah. Terima kasih banyak, MaLFI’s Intern!
BIODATA
Muhammad Dzaki Al Hamid, lahir pada 4 Februari 2006. Saat ini mengenyam pendidikan di Universitas Brawijaya, Prodi Sastra Inggris, semester V. Memiliki ketertarikan pada traveling, fotografi, dan fashion. Bisa dikontak melalui Instagram: @dzakiihamid.